The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga setelah lebih dari tiga tahun. Dalam pertemuan Federal Open Market Committee pada 15–16 September 2026, The Fed secara bulat menaikkan target federal funds rate sebesar 0,25 poin persentase menjadi 3,75%–4,00%. Bank sentral Amerika Serikat menilai aktivitas ekonomi masih tumbuh solid, sementara inflasi tetap tinggi dan perlu dikembalikan menuju target 2%.
Keputusan tersebut sebenarnya sudah banyak diperkirakan market. Sebelum pertemuan, sekitar 85% ekonom dalam jajak pendapat Reuters memperkirakan kenaikan sebesar 0,25 poin persentase. Karena itu, perhatian investor setelah pengumuman lebih tertuju pada arah kebijakan selanjutnya, terlebih proyeksi terbaru menunjukkan 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kenaikan tambahan sebelum akhir 2026.Lantas, bagaimana hasil FOMC kali ini memengaruhi market?
Kenapa The Fed Kembali Menaikkan Suku Bunga?
Inflasi menjadi alasan utama The Fed kembali memperketat kebijakan. Dalam pernyataan resminya, The Fed menyebut inflasi masih berada pada level tinggi, sementara belanja domestik tetap kuat, investasi modal masih solid, dan pasar tenaga kerja relatif stabil. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga dalam upaya membawa inflasi kembali menuju target.
Kekuatan ekonomi juga terlihat dari penjualan ritel Amerika Serikat yang meningkat 1,2% pada Agustus 2026, lebih tinggi dari perkiraan. Di saat yang sama, harga impor naik 0,7%, menunjukkan tekanan harga masih menjadi perhatian. Kombinasi pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang bertahan menjadi salah satu latar belakang market melihat sikap The Fed sebagai hawkish.
US Dollar dan Treasury Yield Menguat
US Dollar menjadi salah satu market yang paling cepat bereaksi. Pada perdagangan Asia 17 September, Dollar Index berada di sekitar 100,33 setelah melonjak 0,7% semalam dan mencapai level tertinggi dalam tujuh minggu. Dollar Index sendiri merupakan indeks yang mengukur kekuatan US Dollar terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Reaksi serupa terlihat di pasar obligasi. Yield Treasury tenor dua tahun, yaitu imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang cukup sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, melonjak sekitar 6 basis poin setelah pengumuman dan berada di sekitar 4,71% pada perdagangan Asia. Sementara itu, yield Treasury tenor 10 tahun bergerak sedikit di bawah 5%.
Penguatan dollar dan kenaikan yield jangka pendek menunjukkan market mulai menyesuaikan posisi terhadap kemungkinan kebijakan moneter yang tetap ketat.
Bagaimana Dampaknya ke Pasar Saham?
Wall Street berbalik melemah setelah keputusan The Fed. Pada penutupan perdagangan 16 September, Dow Jones turun 1,21% ke 51.461,78, S&P 500 melemah 0,44% ke 7.552,14, sedangkan Nasdaq Composite turun tipis 0,01% ke 25.978,43. Ketiga indeks sebelumnya sempat bergerak positif sebelum keputusan suku bunga diumumkan.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pendanaan perusahaan dan membuat obligasi menawarkan return yang lebih menarik dibanding sebelumnya. Namun, dampaknya tidak merata di seluruh sektor. Saham teknologi justru menjadi sektor dengan kinerja terbaik di S&P 500 pada hari itu, sedangkan sektor energi menjadi yang paling tertekan akibat turunnya harga crude.
Bagaimana Reaksi Gold?
Gold mengalami pergerakan dua arah setelah FOMC. Spot gold turun sekitar 0,69% ke US$4.263,19 per ounce pada perdagangan 16 September ketika US Dollar dan Treasury yield menguat. Namun, pada perdagangan Asia 17 September, gold berbalik naik sekitar 1% ke area US$4.305–US$4.310 per ounce.
Suku bunga yang lebih tinggi secara umum menjadi tekanan bagi gold karena emas tidak memberikan bunga, sehingga yield obligasi yang meningkat dapat membuat aset berpendapatan tetap lebih menarik. Namun, ketegangan geopolitik yang masih tinggi tetap memberikan dukungan terhadap permintaan safe haven, sehingga pengaruh kebijakan The Fed terhadap gold tidak selalu bergerak satu arah.
Oil Ikut Turun, Apakah Karena The Fed?
Oil memang turun setelah hasil FOMC, tetapi pergerakannya tidak dapat dijelaskan hanya dari kenaikan suku bunga. Brent turun 2,7% pada perdagangan 16 September dan kembali melemah sekitar 0,7% ke US$105,05 per barel pada perdagangan Asia 17 September.
Kebijakan suku bunga yang lebih ketat dapat memberi tekanan terhadap oil karena berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi. US Dollar yang lebih kuat juga dapat membuat commodity berbasis dollar menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.
Namun, faktor yang lebih langsung menekan oil saat ini berasal dari sisi supply. Saudi Arabia dilaporkan menawarkan tambahan crude melalui Oman, sehingga kekhawatiran terhadap gangguan pasokan Timur Tengah mulai mereda. Karena itu, penurunan oil lebih tepat dilihat sebagai kombinasi sentimen moneter dan perubahan kondisi supply, bukan sebagai dampak FOMC semata.
Apa yang Akan Diperhatikan Market Selanjutnya?
Setelah hasil FOMC September, fokus market beralih pada data ekonomi berikutnya untuk melihat apakah The Fed benar-benar akan menaikkan suku bunga lagi. Data inflasi, konsumsi, dan pasar tenaga kerja akan menjadi indikator penting sebelum pertemuan berikutnya pada 27–28 Oktober 2026.
Dampak paling langsung dari keputusan kali ini terlihat pada US Dollar dan Treasury yield yang menguat setelah market meningkatkan ekspektasi terhadap suku bunga yang lebih tinggi. Saham mendapat tekanan dari kondisi pendanaan yang lebih ketat, sementara gold masih ditopang sentimen safe haven. Untuk oil, kebijakan The Fed tetap berpengaruh terhadap prospek demand, tetapi perkembangan supply Timur Tengah masih menjadi faktor yang lebih dominan dalam jangka pendek.
Dengan demikian, hasil FOMC September bukan hanya soal kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase. Hal yang lebih diperhatikan market adalah sinyal bahwa perjuangan The Fed melawan inflasi belum selesai, sehingga arah kebijakan berikutnya dapat terus memengaruhi pergerakan berbagai aset global.
