Konflik Yaman kembali menjadi perhatian market oil setelah ketegangan antara kelompok Houthi dan Saudi Arabia meningkat. Pada 15 September 2026, serangan rudal dan drone Houthi mengenai pangkalan udara Khamis Mushait di selatan Saudi Arabia. Eskalasi ini menjadi perhatian pasar karena terjadi di tengah gangguan terhadap infrastruktur dan jalur distribusi minyak Saudi.

Kekhawatiran semakin besar setelah East-West Pipeline Saudi dihentikan sementara akibat serangan. Pipa tersebut membawa crude dari wilayah timur Saudi menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah dan belakangan menjadi salah satu jalur penting ketika pengiriman melalui Strait of Hormuz menghadapi hambatan. Lantas, seberapa besar perkembangan konflik Yaman dapat memengaruhi supply dan harga oil?

Kenapa Konflik Yaman Jadi Perhatian Market Oil?

Posisi Yaman yang berbatasan dengan Laut Merah membuat perkembangan konflik di negara tersebut berkaitan langsung dengan keamanan jalur perdagangan energi. Houthi telah memperluas posisinya di pesisir Laut Merah menuju Bab el-Mandeb, selat strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Kondisi ini meningkatkan perhatian terhadap keamanan kapal tanker dan jalur pengiriman minyak menuju pasar Eropa dan wilayah lainnya.

Bagi market oil, perhatian utama bukan hanya pada meningkatnya konflik, tetapi pada kemungkinan berkurangnya crude yang dapat dikirim ke pasar. Risiko tersebut menjadi lebih besar ketika konflik juga berdampak pada infrastruktur energi Saudi Arabia, salah satu produsen dan eksportir minyak utama dunia.

East-West Pipeline Jadi Titik Utama Kekhawatiran Supply

East-West Pipeline menjadi pusat perhatian setelah operasinya dihentikan sementara. Jalur tersebut membawa sekitar 4 juta barel minyak per hari, setara kurang lebih 4% supply global, menuju Yanbu di pesisir Laut Merah. Gangguan pada pipa tersebut juga membuat Saudi menangguhkan pemuatan minyak di pelabuhan Yanbu.

Gangguan ini penting karena East-West Pipeline berfungsi sebagai alternatif bagi Saudi untuk menyalurkan crude tanpa sepenuhnya bergantung pada Strait of Hormuz. Ketika jalur alternatif tersebut ikut terganggu, market mulai memperhitungkan risiko bahwa sebagian supply Saudi tidak dapat mencapai pembeli sesuai jadwal.

Kondisi supply global juga sudah berada dalam tekanan. International Energy Agency memperkirakan total oil supply dunia pada 2026 turun sekitar 5,7 juta barel per hari menjadi rata-rata 100,7 juta barel per hari akibat gangguan yang lebih luas di Timur Tengah dan kawasan lain. Artinya, konflik Yaman bukan satu-satunya penyebab ketatnya supply, tetapi gangguan baru terhadap jalur Saudi menambah risiko yang sudah ada.

Bagaimana Harga Oil Bereaksi?

Reaksi market terlihat pada perdagangan 15 September ketika harga oil naik lebih dari 2% setelah meningkatnya kekhawatiran terhadap supply Saudi. Brent berada di sekitar US$108 per barel ketika market merespons serangan Houthi dan penghentian sementara East-West Pipeline.

Namun, tekanan geopolitik tidak membuat oil terus bergerak naik. Pada perdagangan awal 16 September, Brent turun US$0,93 menjadi US$107,82 per barel, sementara WTI turun US$0,97 menjadi US$104,86 per barel. Koreksi terjadi setelah data American Petroleum Institute menunjukkan stok crude Amerika Serikat bertambah 7,1 juta barel, berlawanan dengan perkiraan analis yang sebelumnya memperkirakan penurunan sekitar 1,6 juta barel.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa risiko konflik dapat mendukung harga melalui kekhawatiran supply, tetapi data fundamental tetap memiliki pengaruh besar. Kenaikan stok crude AS memberikan sinyal bahwa ketersediaan minyak di pasar Amerika lebih tinggi dari perkiraan sehingga menahan sebagian dorongan harga dari sentimen geopolitik.

Seberapa Lama Risiko Supply Bisa Bertahan?

Durasi gangguan East-West Pipeline menjadi salah satu faktor yang menentukan seberapa besar dampaknya terhadap market. Menteri Energi Amerika Serikat memperkirakan aliran minyak dapat kembali dalam beberapa hari, tetapi sumber lain yang dikutip Reuters memberikan estimasi mulai dari beberapa hari hingga lima atau enam minggu.

Semakin cepat jalur tersebut pulih, semakin kecil risiko gangguan supply berkepanjangan. Sebaliknya, proses perbaikan yang lebih lama atau munculnya serangan baru terhadap fasilitas energi dapat membuat market kembali meningkatkan perhatian terhadap kemampuan Saudi mengirimkan crude ke pasar global.

Jadi, Seberapa Besar Dampaknya ke Harga Oil?

Konflik Yaman menjadi penting bagi market oil karena eskalasinya beriringan dengan gangguan pada jalur yang membawa sekitar 4 juta barel minyak per hari. Dampaknya terhadap harga terutama muncul melalui kekhawatiran bahwa supply Saudi tidak dapat dikirim secara normal, bukan semata-mata karena terjadinya konflik militer.

Meski demikian, arah Brent dan WTI tetap dipengaruhi faktor lain seperti stok crude Amerika Serikat, permintaan global, produksi minyak, serta kecepatan pemulihan East-West Pipeline. Karena itu, perkembangan jalur tersebut, aktivitas pelabuhan Yanbu, dan keamanan Bab el-Mandeb menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah tekanan supply akan bertahan atau mulai mereda.