Kelompok Houthi Yaman memperluas penguasaannya di pesisir Laut Merah dengan merebut Pulau Mayun, yang juga dikenal sebagai Perim, pada Jumat, 11 September 2026. Sehari sebelumnya, kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut juga mengambil alih kota pelabuhan Mokha dalam kemajuan cepat di pesisir barat Yaman. Perim terletak di Selat Bab el-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu titik penting perdagangan internasional. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran ketika jalur energi lain di kawasan juga tengah menghadapi gangguan.
Mengapa Pulau Perim Begitu Strategis?
Bab el-Mandeb memiliki lebar sekitar 29 kilometer pada titik tersempitnya dan Pulau Perim berada di antara jalur pelayaran masuk dan keluar selat tersebut. Kapal dari Asia yang menuju Eropa dapat melintasi Bab el-Mandeb menuju Laut Merah dan Terusan Suez tanpa harus memutar mengelilingi Afrika. Lokasi Perim karena itu memberi pihak yang menguasainya posisi strategis di dekat salah satu chokepoint perdagangan laut dunia. Reuters mencatat jalur Bab el-Mandeb memiliki peran penting bagi pengiriman minyak, komoditas, dan barang antara Asia, Timur Tengah, serta Eropa.
Penguasaan Perim, bagaimanapun, belum berarti Houthi mengendalikan seluruh Bab el-Mandeb atau telah menghentikan semua kapal yang melintas. Posisi baru tersebut lebih tepat dipahami sebagai peningkatan kemampuan kelompok itu untuk memberikan tekanan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan. Houthi menyatakan pembatasan mereka ditujukan terhadap kapal yang terkait dengan Arab Saudi dan mengklaim kapal lainnya tetap dapat melintas dengan aman. Klaim tersebut tidak menghilangkan risiko keamanan karena operator kapal tetap harus mempertimbangkan kemungkinan serangan, biaya asuransi, dan perubahan situasi militer.
Jalur Alternatif Saudi Ikut Tertekan
Bab el-Mandeb menjadi semakin penting setelah pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terganggu akibat konflik di kawasan. Arab Saudi kemudian meningkatkan pengiriman minyak melalui East–West Pipeline menuju Yanbu di Laut Merah sehingga kapal dapat membawa minyak ke Asia melalui Bab el-Mandeb tanpa melewati Hormuz. Jalur ini sebelumnya membantu Saudi mempertahankan sebagian ekspornya ketika rute tradisional di Teluk Persia menjadi lebih berisiko. Kemajuan Houthi di sekitar Bab el-Mandeb kini menambah tekanan terhadap jalur alternatif tersebut.
Dampaknya sudah terlihat pada arus pengiriman melalui Laut Merah sebelum perebutan Perim terjadi. AP mencatat lalu lintas pelayaran di Laut Merah masih sekitar 60% lebih rendah dibandingkan sebelum serangan Houthi terhadap kapal dimulai pada akhir 2023, karena banyak operator memilih menghindari kawasan tersebut. Pengiriman minyak Saudi melalui Laut Merah juga turun dari sekitar 3,8 juta barel per hari menjadi 2,2 juta barel per hari pada Agustus menurut data IEA yang dikutip AP. Kondisi itu menunjukkan bahwa ancaman keamanan dapat memengaruhi perdagangan minyak meskipun sebuah selat tidak sepenuhnya ditutup.
Tekanan Datang dari Dua Sisi Jazirah Arab
Perkembangan di Yaman membuat eksportir minyak Teluk menghadapi risiko dari dua jalur strategis secara bersamaan. Selat Hormuz berada di sisi timur Jazirah Arab dan merupakan rute utama minyak dari Teluk Persia, sedangkan Bab el-Mandeb menjadi pintu keluar Laut Merah di sisi barat daya. Reuters menyebut posisi Houthi di sekitar Bab el-Mandeb sebagai titik tekanan kedua terhadap minyak Saudi yang sebelumnya dialihkan dari Hormuz menuju Laut Merah. Situasi tersebut mengurangi fleksibilitas produsen untuk mengalihkan pengiriman ketika salah satu rute mengalami gangguan.
Tekanan terhadap jalur Laut Merah juga datang ketika East–West Pipeline Saudi harus ditutup sementara setelah serangan drone dari Irak. Pipeline sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu menjadi jalur utama Saudi untuk memindahkan minyak dari wilayah timur menuju Yanbu tanpa bergantung pada Hormuz. Sebelum gangguan terbaru, rute tersebut memungkinkan Saudi meningkatkan ekspor dari pantai barat hingga sekitar 4–5 juta barel per hari pada beberapa bulan pertama konflik. Kombinasi gangguan pipeline dan meningkatnya risiko di Bab el-Mandeb mempersempit pilihan pengiriman minyak Saudi ke pasar internasional.
Harga Minyak Kembali di Atas US$100
Pasar minyak kembali menguat pada perdagangan Asia Senin, 14 September 2026, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan Timur Tengah. Reuters mencatat Brent berada sekitar US$107,36 per barel, naik 2,6%, sedangkan WTI berada sekitar US$102,48 per barel, naik 2,4%. Brent sebelumnya sempat mencapai US$109,97 pada 11 September, level tertinggi dalam tiga bulan dan sekitar 57% lebih tinggi dibandingkan level US$70,14 pada 2 Juli. Kenaikan tersebut menunjukkan tingginya premi risiko yang saat ini diperhitungkan pasar terhadap keamanan pasokan dan jalur pengiriman.
Namun, kenaikan harga minyak tidak berasal dari perebutan Perim saja. Pasar pada saat yang sama menghadapi serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi, serangan terhadap kapal di kawasan Teluk, penutupan pipeline Saudi, serta tertundanya pertemuan regional mengenai keamanan Selat Hormuz. Kemajuan Houthi di Bab el-Mandeb menjadi faktor tambahan karena memperbesar kekhawatiran bahwa rute yang sebelumnya digunakan untuk menghindari Hormuz juga semakin berisiko. Reuters menilai ancaman terhadap kedua jalur tersebut dapat membuat harga minyak bertahan tinggi lebih lama dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Apa yang Perlu Dipantau Selanjutnya?
Arah pasar berikutnya akan sangat bergantung pada apakah Houthi memperluas tekanan terhadap kapal internasional yang melewati Bab el-Mandeb dan seberapa cepat jalur ekspor Saudi kembali normal. Perkembangan di Selat Hormuz juga tetap penting karena peningkatan arus melalui jalur tersebut dapat mengurangi ketergantungan terhadap Laut Merah. Sebaliknya, gangguan yang berlangsung bersamaan di Hormuz, pipeline Saudi, dan Bab el-Mandeb dapat meningkatkan biaya transportasi serta memperketat pasokan minyak yang tersedia bagi pasar global. Dengan kondisi tersebut, keamanan jalur pengiriman menjadi salah satu faktor utama yang menentukan volatilitas harga minyak dalam waktu dekat.

