Serangan dan gangguan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat dan menjadi perhatian pasar minyak global. Sedikitnya 12 serangan, percobaan serangan, dan insiden gangguan terhadap kapal pengangkut minyak, liquefied natural gas (LNG), serta liquefied petroleum gas (LPG) tercatat pada periode 28 September hingga 5 Oktober 2026. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu pekan sejak konflik AS-Iran dimulai pada 28 Februari.

Salah satu insiden terbaru melibatkan kapal tanker berbendera Panama, MT On Peace, yang terkena proyektil ketika sedang melintas di Selat Hormuz pada 6 Oktober. Kementerian Luar Negeri India menyebut 12 awak kapal terluka, termasuk 11 warga negara India. Para awak yang terluka kemudian mendapatkan evakuasi medis ke Oman.

Insiden tersebut terjadi ketika pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai kelancaran distribusi minyak dari kawasan Teluk. Meski ekspor minyak mulai kembali meningkat, ancaman terhadap kapal tanker membuat biaya dan risiko pengiriman tetap tinggi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong harga minyak kembali menguat.

MT On Peace Terkena Proyektil di Selat Hormuz

MT On Peace menjadi salah satu kapal tanker yang terkena dampak langsung dari meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Kapal berbendera Panama tersebut diserang pada 6 Oktober ketika melakukan pelayaran di kawasan selat. India menyatakan 12 awak kapal terluka dalam insiden tersebut. Sebanyak 11 di antaranya merupakan warga negara India. Otoritas Oman kemudian melakukan evakuasi terhadap awak yang membutuhkan perawatan medis.

Dalam laporan awal, otoritas Oman menyebut kapal tersebut berada sekitar sembilan mil laut dari Lima, Musandam, wilayah yang menghadap langsung ke Selat Hormuz. Kapal mengalami kebakaran dan sejumlah awak dievakuasi untuk mendapatkan perawatan. Pada saat laporan awal diterbitkan, Oman belum merinci jenis serangan maupun pihak yang bertanggung jawab.

Hingga perkembangan terbaru, proyektil yang mengenai MT On Peace belum dapat dipastikan berasal dari pihak tertentu. Karena itu, insiden tersebut perlu dibedakan dari sejumlah kejadian lain di Selat Hormuz yang telah dikaitkan dengan aktivitas pasukan Iran atau Iran's Revolutionary Guards.

Serangan Kapal Tanker Meningkat

Kasus MT On Peace bukan insiden tunggal. Data yang dikutip Reuters menunjukkan sedikitnya 12 serangan, percobaan serangan, dan gangguan terhadap kapal tanker terjadi sepanjang 28 September hingga 5 Oktober. Insiden tersebut mencakup kapal yang membawa minyak, LNG, dan LPG. Namun, angka 12 tersebut tidak berarti seluruhnya merupakan serangan fisik terhadap kapal. Data tersebut juga mencakup aktivitas seperti penerbangan drone di sekitar kapal, pengawasan, serta komunikasi radio yang dianggap sebagai bentuk gangguan terhadap pelayaran.

Organisasi Maritim Internasional atau IMO mencatat sembilan insiden terverifikasi dalam periode yang sama. Perbedaan jumlah tersebut terjadi karena sumber keamanan maritim dapat mencatat kejadian lebih cepat, sementara IMO membutuhkan proses verifikasi sebelum memasukkan sebuah insiden ke dalam datanya. Meski metode pencatatannya berbeda, kedua data tersebut menunjukkan adanya peningkatan risiko keamanan terhadap kapal yang melintas di kawasan Selat Hormuz.

Mengapa Selat Hormuz Penting bagi Pasar Minyak?

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman energi dari kawasan Teluk menuju pasar global. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memengaruhi bukan hanya volume minyak yang dikirim, tetapi juga biaya dan waktu pengangkutan. Ketika risiko keamanan meningkat, perusahaan pelayaran dapat menghadapi premi asuransi dan biaya angkut yang lebih tinggi. Kapal juga dapat menunda perjalanan, mengubah pola pelayaran, atau mengambil langkah keamanan tambahan.

Kondisi tersebut membuat pasar minyak memperhitungkan risk premium, yaitu tambahan harga yang muncul karena investor menilai adanya risiko terhadap kelancaran pasokan. Persoalannya saat ini bukan semata-mata apakah minyak masih tersedia, tetapi apakah minyak tersebut dapat dikirim secara aman dan efisien ke konsumen. Reuters mencatat bahwa harga minyak tetap berada di atas US$100 per barel meskipun ekspor minyak Timur Tengah mulai pulih, karena masalah logistik dan biaya pengiriman masih tinggi.

Ekspor Minyak Masih Berjalan

Meningkatnya serangan tanker belum membuat ekspor minyak dari kawasan Teluk berhenti. Data pengiriman menunjukkan ekspor negara-negara Teluk justru mengalami pemulihan pada September. Reuters melaporkan ekspor minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, Qatar, Oman, dan Bahrain mencapai rata-rata sekitar 19,2 juta barel per hari pada September, atau lebih dari 81% level sebelum konflik. Ekspor minyak mentah dan kondensat bahkan mencapai sekitar 91% dari level sebelum perang.

Pemulihan tersebut menjadi faktor yang membatasi kekhawatiran terhadap kelangkaan minyak secara langsung. Selama produsen masih mampu mengirimkan minyak melalui berbagai pola logistik, pasar belum menghadapi kehilangan pasokan dalam jumlah besar. Namun, peningkatan serangan membuat keberlanjutan volume tersebut menjadi pertanyaan. Reuters mencatat bahwa kapal yang melintas di Selat Hormuz menghadapi ancaman yang semakin tinggi dan sulit diprediksi.

Brent Kembali di Atas US$100

Kekhawatiran terhadap keamanan pengiriman minyak kembali tercermin pada harga minyak dunia. Pada perdagangan Kamis (8/10), Brent crude futures naik US$1,33 atau sekitar 1,33% menjadi US$101,53 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,11 atau sekitar 1,26% menjadi US$89,39 per barel. Kenaikan tersebut terjadi ketika pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah setelah aktivitas serangan terhadap kapal meningkat.

Namun, pergerakan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh insiden di Selat Hormuz. Pasar minyak juga mempertimbangkan perkembangan stok Amerika Serikat, ekspor minyak, serta langkah negara-negara besar untuk mengurangi dampak gangguan pasokan. Data terbaru dari U.S. Energy Information Administration menunjukkan stok minyak mentah Amerika Serikat turun 3,2 juta barel dalam pekan yang berakhir 2 Oktober menjadi 424,1 juta barel. Penurunan tersebut lebih besar dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 1,7 juta barel.

Apa Dampaknya bagi Harga Minyak?

Dampak utama meningkatnya serangan tanker terhadap harga minyak berasal dari risiko gangguan logistik. Jika kapal masih dapat melewati Selat Hormuz dan volume ekspor tetap tinggi, kenaikan harga kemungkinan lebih banyak mencerminkan premi risiko. Sebaliknya, apabila serangan semakin sering dan mulai membuat perusahaan pelayaran mengurangi aktivitas, dampaknya dapat lebih besar. Pengurangan jumlah kapal yang beroperasi dapat memperlambat pengiriman minyak dan memperketat pasokan yang tersedia di pasar global.

Karena itu, pasar perlu membedakan antara gangguan terhadap kapal dan gangguan terhadap pasokan minyak. Serangan terhadap satu kapal belum otomatis berarti pasokan minyak dunia berkurang. Dampaknya menjadi lebih signifikan apabila gangguan tersebut berlangsung luas dan menyebabkan volume ekspor turun.

Tiga Skenario Harga Brent

Untuk jangka pendek, terdapat tiga kemungkinan yang perlu diperhatikan pelaku pasar.

Pertama, skenario bullish. Jika serangan terhadap kapal tanker terus meningkat dan mulai mengurangi jumlah kapal yang berani melewati Selat Hormuz, risiko gangguan pasokan akan meningkat. Kondisi tersebut dapat mendorong risk premium lebih tinggi dan memberikan tekanan naik terhadap Brent maupun WTI.

Kedua, skenario netral. Jika insiden tetap terjadi tetapi kapal tanker masih dapat beroperasi dan ekspor minyak tetap tinggi, pasar kemungkinan mempertahankan premi risiko tanpa mengalami lonjakan harga yang terlalu besar. Dalam kondisi tersebut, harga minyak masih dapat berada di level tinggi tetapi pergerakannya lebih bergantung pada data stok dan permintaan global.

Ketiga, skenario bearish. Jika aktivitas serangan menurun dan distribusi minyak kembali berjalan lebih normal, premi risiko dapat berkurang. Pemulihan ekspor dan tambahan pasokan dari cadangan strategis juga dapat memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Dengan demikian, jumlah serangan saja belum cukup untuk menentukan arah Brent. Perubahan volume ekspor dan aktivitas kapal tanker akan menjadi indikator yang lebih penting untuk melihat apakah risiko tersebut sudah berubah menjadi gangguan pasokan nyata.

Risiko Logistik Bisa Lebih Penting daripada Kehilangan Produksi

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa masalah utama pasar minyak saat ini tidak selalu berupa penurunan produksi. Logistik juga menjadi faktor penting. Reuters mencatat pengiriman melalui Selat Hormuz telah kembali mencapai sekitar 14,2 juta barel per hari atau sekitar 80% dari level sebelum perang. Namun, harga minyak masih berada di atas US$100 karena biaya pengiriman, asuransi, dan hambatan logistik meningkat.

Biaya pengangkutan tanker dari Timur Tengah menuju Asia bahkan dilaporkan melonjak hingga lebih dari US$1,2 juta per hari. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya setiap barel minyak yang dikirim meskipun produksi dan ekspor belum sepenuhnya berhenti. Hal ini membuat pasar tidak hanya memperhatikan jumlah barel yang tersedia, tetapi juga biaya untuk membawa minyak tersebut ke konsumen.

Apa yang Perlu Diperhatikan Trader?

Trader minyak perlu memantau tiga hal utama setelah meningkatnya serangan di Selat Hormuz.Pertama, jumlah dan frekuensi insiden terhadap kapal. Jika jumlah serangan terus meningkat, premi risiko berpotensi bertahan lebih lama.

Kedua, volume ekspor dan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Ini menjadi indikator penting untuk mengetahui apakah gangguan keamanan sudah mulai berdampak terhadap pasokan fisik.

Ketiga, harga Brent dan WTI terhadap data fundamental lainnya, terutama stok minyak Amerika Serikat. Penurunan stok yang lebih besar dari perkiraan dapat memperkuat tekanan naik apabila terjadi bersamaan dengan gangguan pengiriman di Timur Tengah. Data terbaru EIA menunjukkan stok minyak mentah AS memang turun 3,2 juta barel pada pekan terakhir yang dilaporkan.

Trader juga perlu berhati-hati dalam membaca kenaikan harga hanya berdasarkan satu berita serangan. Selama ekspor masih berjalan, pasar dapat menganggap gangguan tersebut sebagai peningkatan risiko, bukan kehilangan pasokan secara langsung.

Harga Minyak Berpotensi Naik, tetapi Pasokan Tetap Menjadi Kunci

Meningkatnya serangan dan gangguan terhadap kapal tanker membuat risiko bullish terhadap harga minyak kembali menguat. Brent yang mencapai US$101,53 per barel pada Kamis (8/10) menunjukkan pasar masih memberikan perhatian besar terhadap keamanan pengiriman minyak dari Timur Tengah. Namun, kenaikan lebih lanjut akan sangat bergantung pada apakah gangguan tersebut mulai mengurangi pasokan fisik. Sejauh ini, ekspor minyak dari negara-negara Teluk masih berjalan dan telah mengalami pemulihan dibandingkan periode awal konflik.

Karena itu, perkembangan di Selat Hormuz perlu dilihat sebagai risiko terhadap logistik dan pasokan, bukan otomatis sebagai penurunan produksi minyak. Jika serangan semakin luas hingga membuat lalu lintas tanker dan ekspor turun signifikan, tekanan bullish terhadap Brent dapat semakin kuat. Sebaliknya, apabila pengiriman tetap berjalan, premi risiko dapat berkurang dan membatasi kenaikan harga.

Untuk saat ini, arah harga minyak masih sangat bergantung pada apakah peningkatan serangan tanker hanya menaikkan biaya dan risiko pelayaran atau benar-benar mulai mengurangi volume minyak yang masuk ke pasar global.