Harga minyak turun lebih dari 2% pada perdagangan Senin, 21 September 2026, ketika pasar melihat tanda-tanda membaiknya pasokan dari Timur Tengah. Pemulihan ekspor Arab Saudi menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga setelah sebelumnya pasar khawatir konflik kawasan dapat menghambat distribusi minyak dalam skala besar.
Pada awal perdagangan Asia, Investing.com mencatat Brent turun sekitar 0,9% menjadi US$102,93 per barel, sementara West Texas Intermediate melemah sekitar 1% menjadi US$99,27 per barel. Tekanan kemudian berlanjut. Reuters melaporkan Brent turun sekitar 2,08% menjadi US$101,71 per barel, sedangkan West Texas Intermediate turun sekitar 2,14% menjadi US$98,15 per barel.
Pergerakan tersebut membawa harga minyak ke level terendah sejak 10 September. Penurunan terjadi di tengah konflik Timur Tengah yang masih berlangsung, sehingga perhatian pasar kini lebih tertuju pada seberapa besar konflik tersebut benar-benar memengaruhi ketersediaan minyak.
Ekspor Arab Saudi Mulai Pulih
Reuters melaporkan ekspor minyak Arab Saudi pada September meningkat menjadi lebih dari 4 juta barel per hari, setelah sebelumnya berada di sekitar 2,4 juta barel per hari pada Agustus.Peningkatan tersebut menjadi sinyal bahwa Arab Saudi masih mampu mempertahankan sebagian besar pengiriman minyaknya ke pasar global meskipun sejumlah jalur distribusi sempat menghadapi gangguan.Bagi pasar, kondisi ini mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya kekurangan pasokan dalam jumlah besar. Ketika risiko kehilangan pasokan menurun, tekanan terhadap harga minyak ikut meningkat.
Jalur Alternatif Bantu Pertahankan Distribusi
Pemulihan pengiriman juga didukung oleh penggunaan jalur alternatif.Investing.com melaporkan Saudi Aramco telah menjual sekitar 60 juta barel minyak mentah untuk pengiriman September dan Oktober. Sebagian pengiriman dilakukan melalui mekanisme ship-to-ship transfer di Oman sebelum minyak diteruskan kepada pembeli.Pembeli dilaporkan berasal dari China, Korea Selatan, India, dan Jepang. Mekanisme tersebut diperkirakan dapat mendukung ekspor sekitar 1 juta hingga 1,5 juta barel per hari secara rata-rata.Penggunaan jalur alternatif ini menunjukkan bahwa gangguan pada satu rute tidak langsung menghentikan distribusi minyak Saudi secara keseluruhan.
East-West Pipeline Berpotensi Kembali Beroperasi
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan East-West Pipeline.Investing.com sebelumnya melaporkan bahwa jalur tersebut berpotensi kembali beroperasi sekitar setengah kapasitasnya dalam beberapa hari. Kabar itu memicu koreksi harga pada perdagangan 16 September, ketika Brent turun sekitar 3,1% dan West Texas Intermediate melemah sekitar 3,6%.
East-West Pipeline menghubungkan wilayah produksi minyak di timur Arab Saudi dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur ini penting karena memberikan alternatif distribusi tanpa bergantung sepenuhnya pada Selat Hormuz.Prospek pemulihan jalur tersebut membuat pasar menilai risiko gangguan distribusi berkepanjangan mulai berkurang.
Harapan Diplomasi Amerika Serikat-Iran Ikut Mempengaruhi Sentimen
Selain faktor pasokan, pasar juga memperhatikan perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran.Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan terbuka terhadap kemungkinan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.Belum ada kepastian bahwa pertemuan tersebut akan menghasilkan kesepakatan. Namun, Reuters dan Investing.com mencatat bahwa peluang komunikasi antara kedua negara ikut memengaruhi sentimen pasar karena dapat mengurangi kekhawatiran terhadap eskalasi konflik lebih lanjut.Dalam pasar minyak, perkembangan diplomatik biasanya diperhatikan karena konflik yang melibatkan Iran dapat berdampak pada fasilitas produksi maupun jalur distribusi energi di kawasan.
Risiko Pasokan Belum Sepenuhnya Hilang
Meski harga minyak sedang tertekan, kondisi distribusi di Timur Tengah belum sepenuhnya kembali normal.Reuters melaporkan hanya sekitar 12 kapal komoditas yang melewati Selat Hormuz selama akhir pekan terbaru, turun dari sekitar 35 kapal pada akhir pekan sebelumnya. Sebelum konflik meningkat pada Februari, sekitar 125 kapal komersial besar biasanya melintasi kawasan tersebut setiap hari.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Gangguan yang lebih besar pada kawasan tersebut tetap berpotensi memengaruhi distribusi minyak global.Serangan Houthi terhadap Arab Saudi juga masih menjadi salah satu risiko yang diperhatikan pasar. Namun, sejauh ini peningkatan ekspor Saudi dan penggunaan rute alternatif membuat dampak langsung terhadap pasokan tidak sebesar kekhawatiran sebelumnya.
Apa yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya?
Pergerakan harga minyak berikutnya akan banyak dipengaruhi oleh kondisi pasokan dan perkembangan geopolitik.Pasar akan memperhatikan apakah ekspor Arab Saudi dapat terus meningkat, seberapa cepat East-West Pipeline kembali beroperasi, serta bagaimana aktivitas pelayaran di Selat Hormuz berkembang.
Di sisi geopolitik, perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran juga akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi risiko terhadap kawasan Timur Tengah.Untuk saat ini, penurunan harga lebih mencerminkan perubahan penilaian pasar terhadap risiko pasokan dibandingkan berakhirnya konflik. Pasokan yang mulai pulih membuat sebagian tekanan geopolitik terhadap harga minyak berkurang.
