Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat di dekat Al Azraq, Yordania, pada Selasa (8/9), dalam eskalasi terbaru konflik antara Teheran dan Washington. Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan serangan tersebut menargetkan pangkalan AS di sekitar Al Azraq, sementara Angkatan Bersenjata Yordania melaporkan sistem pertahanan udaranya menghadapi 20 rudal balistik yang ditembakkan dari wilayah Iran. Sebanyak 18 rudal berhasil dicegat dan dihancurkan, sedangkan dua lainnya jatuh di daerah tidak berpenghuni tanpa menimbulkan korban.

Apa yang Memicu Serangan Iran ke Pangkalan AS?

Serangan tersebut terjadi di tengah rangkaian aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, CENTCOM mengumumkan telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran setelah IRGC disebut dua kali mencoba menargetkan sebuah kapal perang Angkatan Laut AS dengan rudal balistik dalam dua hari sebelumnya. Menurut militer AS, tidak ada personel Amerika Serikat yang terluka dalam upaya serangan tersebut.Lima kapal tanker yang dihancurkan adalah Kivik, Charminar, Horizon 1, Riesco, dan Derya. Associated Press melaporkan awak kapal telah diperingatkan untuk meninggalkan kapal sebelum serangan AS dilakukan. CENTCOM menyebut kapal-kapal tersebut sebagai bagian dari jaringan yang digunakan untuk mendanai IRGC dan kelompok sekutunya di kawasan.Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington akan merespons setiap upaya Iran menyerang kapal militernya. Setelah penghancuran lima kapal tanker tersebut, IRGC mengumumkan serangan rudal balistik terhadap pangkalan AS di dekat Al Azraq. Iran melalui media pemerintahnya mengklaim serangan tersebut menimbulkan kerusakan besar pada sasaran yang dituju.Klaim Iran mengenai kerusakan itu berbeda dengan keterangan yang disampaikan Yordania. Hingga laporan awal mengenai serangan tersebut diterbitkan, otoritas Yordania menyatakan tidak ada korban dan sebagian besar rudal berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara.

Yordania Nyatakan 18 dari 20 Rudal Berhasil Dicegat

Angkatan Bersenjata Yordania melalui pernyataan yang dipublikasikan Jordan News Agency (Petra) menyebut wilayah kerajaan tersebut mendapat serangan rudal yang berasal dari Iran. Sistem pertahanan udara Yordania menghadapi 20 rudal balistik dan berhasil mencegat serta menghancurkan 18 di antaranya, sedangkan dua rudal lainnya jatuh di daerah tanpa permukiman penduduk.Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, militer Yordania menyatakan tidak ada korban akibat serangan tersebut. Tim khusus juga mulai mengamankan lokasi jatuhnya pecahan dan serpihan rudal serta meminta masyarakat tidak mendekati, menyentuh, atau memindahkan benda yang belum teridentifikasi.Militer Yordania menyatakan sistem pengawasan, peringatan dini, dan pertahanan udara tetap berada dalam tingkat kesiapsiagaan tinggi. Otoritas negara tersebut juga meminta masyarakat mengandalkan informasi resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai perkembangan serangan.

Yordania Beberapa Kali Terdampak Konflik

Serangan terbaru bukan pertama kalinya wilayah Yordania terdampak dalam konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Reuters mencatat Iran sebelumnya telah beberapa kali menargetkan Yordania sepanjang perang berlangsung, termasuk serangan pada Juli yang menewaskan dua personel militer AS.Yordania juga beberapa kali melaporkan pencegatan rudal yang berasal dari Iran. Pada 9 Juli 2026, misalnya, Angkatan Bersenjata Yordania menyatakan berhasil mencegat dan menghancurkan delapan rudal yang diluncurkan dari Iran menuju wilayahnya tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan material.Kondisi tersebut menempatkan Yordania sebagai salah satu negara kawasan yang terdampak langsung dari eskalasi konflik. Negara itu merupakan mitra keamanan Amerika Serikat dan menjadi lokasi keberadaan personel serta fasilitas militer AS.

Eskalasi Iran-AS Kembali Meningkat

Pertukaran serangan terbaru terjadi setelah intensitas konflik sempat mereda selama Agustus. Reuters melaporkan Iran dan Amerika Serikat kembali saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir, termasuk serangan terhadap kapal perang, kapal tanker minyak, serta fasilitas militer di kawasan.Eskalasi juga melibatkan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Pada Selasa, kelompok tersebut melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah lokasi di Arab Saudi, termasuk fasilitas minyak di Jazan dan Abha. Otoritas Saudi melaporkan 73 orang terluka dalam rangkaian serangan tersebut.Rangkaian serangan terhadap fasilitas militer dan infrastruktur energi membuat perkembangan konflik tidak hanya menjadi persoalan keamanan regional. Perhatian juga tertuju pada jalur perdagangan energi, khususnya Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute strategis pengiriman minyak dari kawasan Teluk.

Aktivitas Pelayaran di Selat Hormuz Menurun

Ketegangan terbaru turut bertepatan dengan menurunnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Data awal perusahaan pelacak kapal Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan hanya enam kapal komoditas melewati jalur tersebut pada Selasa, lebih rendah dibandingkan sembilan kapal sehari sebelumnya dan rata-rata 10 hari sebanyak 12 kapal.Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan energi karena menghubungkan produsen minyak di kawasan Teluk dengan pasar internasional. Ketegangan di sekitar jalur tersebut kembali menjadi perhatian setelah serangan terhadap kapal tanker Iran serta ancaman Teheran terhadap aktivitas pengiriman minyak di kawasan.Iran juga mengancam akan menargetkan kapal tanker di pelabuhan Kuwait dan Bahrain setelah serangan AS terhadap kapal-kapal minyak Iran. Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran mengenai keamanan distribusi energi di kawasan Teluk.

Harga Minyak Mendekati US$100 per Barel

Eskalasi konflik turut mendorong harga minyak dunia bergerak naik. Reuters melaporkan harga minyak mentah Brent pada perdagangan awal Rabu (9/9) naik 1,4 persen menjadi US$99,33 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) meningkat 1,4 persen menjadi US$94,34 per barel.Harga Brent tercatat telah meningkat sekitar 25 persen sejak awal Agustus seiring memudarnya harapan terhadap penyelesaian permanen konflik dan kembali meningkatnya aksi militer di kawasan. Serangan terhadap tanker Iran, fasilitas energi Saudi, serta jalur pelayaran utama turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak.Reuters mencatat kenaikan pada Rabu menjadi sesi keempat berturut-turut bagi harga minyak. Dengan Brent bergerak mendekati level US$100 per barel, perkembangan keamanan di Timur Tengah dan kelancaran pasokan energi dari kawasan tersebut tetap menjadi perhatian pasar global.