Militer Amerika Serikat (AS) menyerang Pulau Larak, sebuah pulau kecil milik Iran di dekat Selat Hormuz, pada Minggu, 30 Agustus 2026 waktu setempat. Dua peluncur rudal milik Iran di pulau itu dilaporkan hancur akibat serangan tersebut, dan pasar minyak dunia langsung bereaksi.

Kronologi Serangan

Pasukan AS menghantam dua peluncur roket Iran di Pulau Larak setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terpantau bersiap menembakkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz. Konfirmasi ini disampaikan seorang pejabat AS kepada CNN.Pejabat tersebut memastikan bahwa pasukan AS menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak pada hari itu, karena pasukan Korps Garda Revolusi Islam terlihat bersiap meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz. (Haley Britzky & Mohammed Tawfeeq, CNN)

Warga sekitar melaporkan mendengar suara ledakan di dekat pulau tersebut, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Fars News Agency. Pulau Larak terletak berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.IRGC menuduh serangan itu dilakukan oleh musuh Amerika dan Israel, dan mengklaim ada prajurit serta warga sipil Iran yang tewas dan terluka. Teheran bersumpah akan membalas, dengan salah satu juru bicara IRGC menilai tindakan AS sebagai kesalahan strategis yang fatal. (Fars News Agency)Serangan ini terjadi tak lama setelah Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan telah merampungkan pembersihan ranjau laut dari jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz pekan sebelumnya. Presiden AS Donald Trump bahkan sempat memperingatkan bahwa kapal atau perahu mana pun yang memasang ranjau baru akan langsung dihancurkan secara sistematis. (Al Jazeera)

Dampak ke Harga Minyak

Merespons eskalasi tersebut, harga minyak Brent untuk pengiriman November naik dan melampaui level 90 dolar AS per barel pada perdagangan Senin, menyoroti kembali risiko terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.Kenaikan ini melanjutkan pola gejolak yang berlangsung sejak perang AS-Israel terhadap Iran pecah pada akhir Februari 2026. Sepanjang Agustus, kontrak berjangka Brent tercatat berfluktuasi dalam rentang harga yang cukup lebar, dipengaruhi oleh upaya diplomasi yang tersendat di satu sisi, dan janji Washington untuk terus menekan Teheran lewat sanksi ekonomi di sisi lain.

Sebelum serangan akhir pekan, harga minyak sempat melemah dalam beberapa hari terakhir. Pada Jumat (28/8/2026), Brent ditutup turun tipis ke level 89,31 dolar AS per barel, seiring pelaku pasar mencermati kebuntuan pembicaraan diplomatik AS-Iran sekaligus mulai pulihnya sebagian arus pengiriman minyak melalui Hormuz, meski dengan volume kapal yang masih jauh di bawah rata-rata sebelum perang.Goldman Sachs memperkirakan total ekspor minyak dari kawasan Teluk saat ini berkisar 15-16 juta barel per hari, atau 7-8 juta barel per hari di bawah level sebelum perang, meskipun sudah membaik dibandingkan titik terendah pada Maret 2026.

Sanksi Ekonomi dan Dampak ke Konsumen

Tekanan terhadap Iran tidak hanya datang lewat jalur militer. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan lalu mengumumkan paket sanksi baru yang disebut Washington sebagai kampanye tekanan ekonomi terbesar terhadap Teheran sepanjang sejarah. Analis Commonwealth Bank of Australia (CBA) memproyeksikan harga minyak Brent akan bergerak pada kisaran 70-100 dolar AS per barel sepanjang paruh kedua 2026, dengan potensi mendekati batas bawah kisaran tersebut apabila arus minyak lewat Hormuz kembali pulih secara bertahap.

Dampak konflik ini turut dirasakan konsumen di dalam negeri AS. Data American Automobile Association (AAA) mencatat harga bensin rata-rata nasional AS bertahan di atas 4 dolar AS per galon pada akhir Agustus, dengan California mencatat harga tertinggi, sekitar 5,66 dolar AS per galon. Kondisi itu mulai menimbulkan tekanan politik menjelang pemilu sela Kongres AS pada November mendatang.

Proyeksi ke Depan

Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan produksi minyak di Timur Tengah baru akan kembali mendekati level sebelum konflik pada awal 2027, dengan rata-rata harga Brent sepanjang 2026 diperkirakan berada di kisaran 87 dolar AS per barel. Analis pasar menilai ketidakpastian masih akan mewarnai pergerakan harga minyak selama negosiasi AS-Iran belum menghasilkan kesepakatan yang solid dan berkelanjutan soal status Selat Hormuz.