Tiba-tiba posisi trading tertutup otomatis? Bisa jadi akun Anda terkena stop out. Bagi trader, istilah ini mungkin sudah tidak asing. Namun, tidak sedikit yang masih bingung mengapa posisi bisa ditutup oleh broker tanpa menekan tombol close.Jawabannya berkaitan dengan margin, equity, dan margin level.
Apa Itu Stop Out?
Secara sederhana, stop out adalah kondisi ketika broker menutup posisi trading secara otomatis karena kondisi margin akun sudah mencapai batas tertentu.Hal ini dilakukan untuk membatasi risiko ketika dana yang tersedia tidak lagi cukup untuk mempertahankan posisi yang sedang terbuka.Dengan kata lain, stop out merupakan salah satu mekanisme manajemen risiko dalam trading.
Sebelum Stop Out, Kenali Margin Level
Untuk memahami stop out, trader perlu mengenal margin level.Secara umum, margin level dapat dihitung dengan rumus:Margin Level = (Equity ÷ Used Margin) × 100%Equity adalah nilai akun setelah memperhitungkan floating profit atau loss, sedangkan used margin adalah dana yang sedang digunakan sebagai jaminan untuk mempertahankan posisi terbuka.Ketika posisi mengalami floating loss, equity dapat menurun. Jika used margin tetap digunakan, margin level pun ikut turun.Semakin besar kerugian, semakin rendah margin level.
Lalu, Apa Itu Margin Call?
Sebelum mencapai stop out, akun dapat memasuki kondisi margin call.Margin call merupakan peringatan bahwa margin level sudah mendekati batas yang ditentukan broker. Pada kondisi ini, trader perlu memperhatikan posisi dan kondisi akunnya karena ruang untuk menahan kerugian semakin terbatas.Batas margin call dan stop out dapat berbeda tergantung kebijakan broker dan jenis akun.
Dari Margin Call ke Stop Out
Gambaran sederhananya seperti ini:Posisi mengalami loss → Equity menurun → Margin level turun → Margin Call → Margin level mencapai batas Stop Out → Posisi dapat ditutup otomatisJadi, stop out bukan terjadi secara tiba-tiba tanpa alasan. Kondisi tersebut merupakan hasil dari menurunnya kemampuan akun untuk mempertahankan posisi terbuka.
Kenapa Stop Out Bisa Terjadi?
Ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko stop out, seperti:- Membuka posisi terlalu besar dibandingkan modal.- Menggunakan leverage secara berlebihan.- Membiarkan floating loss terus membesar.- Tidak menggunakan manajemen risiko dengan baik.- Membuka terlalu banyak posisi dalam waktu bersamaan.Karena itu, leverage tinggi tidak selalu berarti harus membuka posisi lebih besar. Trader tetap perlu menyesuaikan ukuran posisi dengan modal dan risiko yang siap ditanggung.
Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Stop Out?
Tidak ada cara yang dapat menjamin akun terbebas dari stop out. Namun, trader dapat mengelola risiko dengan lebih terukur.Beberapa hal yang dapat diperhatikan adalah mengatur ukuran posisi, memahami penggunaan margin, menetapkan batas risiko, dan menggunakan stop loss sesuai strategi.Trader juga perlu mengetahui level margin call dan stop out yang berlaku pada broker atau jenis akun yang digunakan.
Stop Out Bukan Sekadar Posisi yang Tertutup
Stop out merupakan konsekuensi ketika kondisi margin akun sudah mencapai batas tertentu. Memahami hubungan antara equity, used margin, margin level, margin call, dan stop out dapat membantu trader lebih memahami kondisi akunnya.Jadi, jangan menunggu posisi terkena stop out untuk mulai memahami margin. Kenali kondisi akun Anda sebelum risiko semakin besar.
