Akun trading naik dari Rp10 juta menjadi Rp15 juta. Sekilas, performanya terlihat bagus karena modal sudah bertambah 50%. Namun, bagaimana jika sebelum mencapai Rp15 juta tersebut, akun sempat turun dari Rp14 juta menjadi Rp10,5 juta? Angka profit pada akhirnya mungkin terlihat menarik, tetapi perjalanan menuju profit tersebut menunjukkan risiko yang tidak terlihat jika trader hanya melihat hasil akhirnya. Penurunan dari titik tertinggi menuju titik terendah tersebut merupakan bagian dari drawdown.

Dalam evaluasi performa, drawdown digunakan untuk melihat seberapa besar penurunan nilai investasi atau portofolio dari titik puncaknya. Maximum drawdown kemudian menunjukkan penurunan terbesar yang terjadi dalam periode tertentu. Bagi trader, memahami drawdown penting karena profit hanya menunjukkan hasil, sementara drawdown membantu menjawab pertanyaan yang berbeda: seberapa dalam akun harus turun sebelum bisa kembali menghasilkan titik tertinggi baru?

Apa Itu Drawdown dalam Trading?

Drawdown adalah penurunan nilai akun dari titik tertinggi atau peak menuju titik terendah atau trough sebelum akun kembali mencapai titik puncak sebelumnya. Dengan kata lain, drawdown tidak sekadar menunjukkan apakah sebuah transaksi mengalami kerugian, tetapi melihat penurunan akun dalam sebuah periode. Misalnya, seorang trader memulai dengan modal Rp10 juta. Setelah beberapa transaksi yang menguntungkan, nilai akun meningkat menjadi Rp12 juta. Setelah itu, beberapa posisi mengalami kerugian sehingga nilai akun turun menjadi Rp10,8 juta.

Penurunan sebesar Rp1,2 juta tersebut merupakan drawdown 10% jika dihitung dari titik tertinggi Rp12 juta. Konsep ini membuat drawdown berbeda dari sekadar menghitung transaksi yang rugi. Sebuah akun bisa tetap menghasilkan profit secara keseluruhan, tetapi selama perjalanannya tetap mengalami beberapa periode drawdown.

Mengapa Profit Saja Tidak Cukup untuk Menilai Trading?

Profit merupakan salah satu ukuran penting dalam trading, tetapi angka tersebut belum memberikan gambaran lengkap mengenai risiko yang diambil. Bayangkan dua trader sama-sama berhasil menghasilkan profit 20%. Trader pertama mengalami penurunan maksimum hanya sekitar 5% sebelum kembali naik. Trader kedua juga menghasilkan profit 20%, tetapi sebelumnya mengalami penurunan hingga 30%.

Hasil akhirnya memang sama-sama positif. Namun, risiko yang harus ditanggung keduanya berbeda. Trader kedua harus melewati penurunan yang jauh lebih dalam sebelum mencapai hasil tersebut. Karena itu, ketika mengevaluasi strategi trading, profit sebaiknya tidak dilihat sendirian. Maximum drawdown menjadi salah satu ukuran yang dapat membantu menunjukkan seberapa besar penurunan yang pernah dialami akun selama periode tertentu. CFA Institute juga memasukkan drawdown dan maximum drawdown sebagai bagian dari ukuran yang digunakan dalam evaluasi performa dan risiko.

Bagaimana Cara Menghitung Drawdown?

Cara sederhana menghitung drawdown adalah membandingkan nilai akun saat berada di titik terendah dengan nilai akun pada titik puncak sebelumnya. Misalnya, akun pernah mencapai Rp20 juta kemudian turun menjadi Rp18 juta. Penurunannya adalah Rp2 juta. Jika dibandingkan dengan nilai puncak Rp20 juta, maka drawdown yang terjadi adalah 10%.

Secara sederhana, persentase drawdown dapat dihitung dengan membandingkan selisih antara nilai puncak dan nilai terendah dengan nilai puncak tersebut. Dalam praktiknya, trader juga perlu memperhatikan apakah perhitungan menggunakan balance atau equity. Balance lebih mencerminkan hasil transaksi yang sudah direalisasikan, sedangkan equity dapat berubah mengikuti posisi yang masih terbuka. Karena itu, angka drawdown pada platform tertentu perlu dibaca berdasarkan cara platform tersebut mendefinisikan dan menghitungnya.

Apa Itu Maximum Drawdown?

Jika sebuah akun mengalami beberapa kali penurunan, trader dapat melihat penurunan terbesar yang pernah terjadi dalam periode tertentu melalui maximum drawdown atau MDD. Maximum drawdown pada dasarnya mengukur kerugian terbesar dari sebuah titik puncak menuju titik terendah berikutnya. CFA Institute juga menjelaskan maximum drawdown sebagai ukuran kerugian maksimum dari peak ke trough dalam suatu periode.

Contohnya, sebuah akun pernah mencapai Rp20 juta kemudian turun menjadi Rp18 juta. Pada periode berikutnya akun kembali naik hingga Rp25 juta, tetapi kemudian turun menjadi Rp20 juta. Dari dua periode tersebut, penurunan terbesar adalah dari Rp25 juta menjadi Rp20 juta, yaitu 20%. Angka tersebut menjadi penting ketika trader ingin mengetahui seberapa besar penurunan yang secara historis pernah dialami strateginya.

Drawdown Tidak Sama dengan Kerugian Satu Transaksi

Kerugian satu transaksi hanya menunjukkan hasil dari satu posisi. Sementara itu, drawdown melihat perjalanan nilai akun dari titik tertinggi menuju titik terendah. Seorang trader bisa mengalami lima transaksi rugi secara berturut-turut. Jika rangkaian kerugian tersebut membuat akun terus berada di bawah titik tertinggi sebelumnya, maka penurunan tersebut akan membentuk drawdown.

Sebaliknya, satu transaksi yang rugi besar belum tentu menjadi maximum drawdown jika setelahnya akun mampu mencetak titik tertinggi baru dan penurunan berikutnya ternyata lebih besar. Karena itu, drawdown memberikan perspektif yang berbeda. Trader tidak hanya melihat berapa kali mengalami kerugian, tetapi juga melihat dampak kerugian tersebut terhadap perjalanan keseluruhan akun.

Semakin Besar Drawdown, Semakin Besar Pemulihan yang Dibutuhkan

Salah satu hal yang sering luput diperhatikan trader adalah hubungan antara besar kerugian dan keuntungan yang dibutuhkan untuk kembali ke posisi awal. Jika akun mengalami drawdown 5%, trader membutuhkan keuntungan sekitar 5,26% untuk kembali ke nilai sebelumnya. Ketika drawdown mencapai 10%, dibutuhkan keuntungan sekitar 11,11%. Pada drawdown 20%, akun membutuhkan keuntungan 25% untuk kembali ke titik awal.

Jika penurunan mencapai 30%, keuntungan yang dibutuhkan untuk pulih menjadi sekitar 42,86%. Drawdown 40% membutuhkan pemulihan sekitar 66,67%. Sementara itu, ketika akun mengalami drawdown 50%, trader membutuhkan keuntungan 100% hanya untuk kembali ke nilai akun sebelum penurunan. Perbedaan ini terjadi karena persentase keuntungan dihitung dari modal yang sudah lebih kecil setelah mengalami kerugian. Artinya, semakin dalam akun jatuh, semakin berat perjalanan untuk kembali ke titik sebelumnya.

Berapa Drawdown yang Bisa Disebut Aman?

Tidak ada satu angka drawdown yang bisa disebut aman untuk semua trader. Batas yang dapat diterima bergantung pada strategi, ukuran modal, toleransi risiko, ukuran posisi, dan tujuan trading. Karena itu, trader sebaiknya tidak menunggu sampai akun mengalami drawdown besar baru menentukan batas risiko. Batas tersebut lebih baik ditentukan sejak awal sebagai bagian dari rencana trading.

Misalnya, jika seorang trader mengetahui bahwa penurunan 20% sudah berada di luar kemampuan psikologis atau finansialnya, maka risiko per transaksi dan ukuran posisi perlu disesuaikan agar kemungkinan mencapai kondisi tersebut dapat ditekan. Dengan cara ini, drawdown bukan hanya menjadi angka yang dilihat setelah akun mengalami penurunan, tetapi juga menjadi bagian dari perencanaan risiko.

Apa Hubungan Drawdown dengan Leverage?

Leverage sering dikaitkan dengan risiko yang lebih besar karena memungkinkan trader mengambil eksposur yang lebih besar dibandingkan modal yang tersedia. Namun, leverage itu sendiri tidak otomatis membuat drawdown menjadi besar. Faktor yang lebih menentukan adalah bagaimana leverage digunakan dan seberapa besar posisi yang diambil dibandingkan dengan modal.

Sebagai contoh, dua trader dapat menggunakan leverage yang sama tetapi memiliki ukuran posisi berbeda. Trader dengan posisi lebih besar terhadap modal akan mengalami perubahan equity yang lebih besar ketika harga bergerak berlawanan dengan posisinya.

Karena itu, ketika membahas drawdown, trader sebaiknya tidak hanya melihat leverage, tetapi juga memperhatikan position sizing, risiko per transaksi, dan total eksposur akun. Dalam pengelolaan portofolio, tingkat leverage memang menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan bersama ukuran risiko lainnya.

Berapa Lama Akun Bisa Pulih dari Drawdown?

Selain seberapa dalam penurunan akun, trader juga perlu memperhatikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pulih. Misalnya, dua strategi sama-sama mengalami maximum drawdown 20%. Strategi pertama kembali ke titik tertinggi dalam satu bulan, sementara strategi kedua membutuhkan enam bulan untuk mencapai level sebelumnya.

Secara persentase, drawdown keduanya sama. Namun, durasi pemulihannya berbeda jauh. Periode ketika akun masih berada di bawah titik tertinggi sebelumnya sering disebut sebagai bagian dari drawdown period atau periode pemulihan. CFA Institute memasukkan drawdown duration sebagai salah satu ukuran yang dapat digunakan dalam evaluasi performa. Artinya, melihat kedalaman drawdown saja belum selalu cukup; lamanya akun berada dalam kondisi tersebut juga dapat memberikan informasi tambahan.

Equity dan Balance Bisa Memberikan Gambaran Berbeda

Trader juga perlu memahami perbedaan antara balance dan equity ketika melihat kondisi akun. Balance pada dasarnya mencerminkan saldo setelah hasil transaksi yang telah direalisasikan. Sementara itu, equity dapat berubah ketika terdapat posisi terbuka karena keuntungan atau kerugian yang belum direalisasikan ikut memengaruhi nilai akun.

Misalnya, balance masih menunjukkan Rp10 juta, tetapi trader memiliki posisi terbuka dengan floating loss Rp500 ribu. Dalam kondisi tersebut, equity secara sederhana berada di sekitar Rp9,5 juta. Karena itu, melihat equity dapat membantu trader memahami tekanan risiko yang sedang terjadi pada posisi terbuka. Namun, trader tetap perlu memahami metode perhitungan yang digunakan oleh platform karena tampilan dan definisi metrik dapat berbeda.

Drawdown Besar Tidak Otomatis Berarti Strateginya Buruk

Drawdown perlu diperhatikan, tetapi bukan berarti setiap strategi yang mengalami drawdown besar otomatis merupakan strategi yang buruk. Pasar bergerak dalam kondisi yang berbeda-beda. Sebuah strategi tertentu dapat bekerja baik pada kondisi pasar tertentu tetapi mengalami periode performa yang lebih buruk ketika kondisi pasar berubah.

Yang perlu dilihat adalah apakah drawdown tersebut masih sesuai dengan karakteristik strategi yang direncanakan, berapa lama periode pemulihannya, dan apakah tingkat risiko tersebut masih dapat diterima oleh trader. CFA Institute juga menekankan bahwa ukuran performa seperti maximum drawdown perlu digunakan bersama alat analisis lainnya dan disesuaikan dengan proses investasi, toleransi risiko, serta horizon waktu.

Apa yang Perlu Dipantau Trader?

Trader tidak harus menunggu akun mengalami kerugian besar untuk mulai memperhatikan drawdown. Beberapa hal dapat dicatat secara rutin, mulai dari titik tertinggi akun, penurunan terbesar, durasi drawdown, hingga waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke titik tertinggi sebelumnya.

Catatan tersebut dapat membantu trader melihat pola yang mungkin tidak terlihat jika hanya memperhatikan profit dan loss setiap transaksi. Misalnya, trader mungkin menemukan bahwa strateginya memang menghasilkan profit dalam jangka panjang, tetapi hampir selalu mengalami drawdown cukup besar setelah periode profit tertentu. Informasi seperti ini dapat digunakan untuk mengevaluasi ukuran posisi atau menyesuaikan ekspektasi terhadap strategi.

Namun, drawdown tetap merupakan ukuran berdasarkan kinerja historis. Angka tersebut menggambarkan apa yang pernah terjadi, bukan jaminan mengenai seberapa besar penurunan yang akan terjadi pada masa depan.

Profit Besar Belum Tentu Menunjukkan Risiko yang Rendah

Pada akhirnya, melihat profit saja belum cukup untuk memahami kualitas sebuah strategi trading. Akun yang menghasilkan profit 30% tetapi sempat mengalami drawdown 25% memiliki perjalanan risiko yang berbeda dari akun yang menghasilkan profit 20% dengan drawdown 5%. Perbedaan tersebut penting karena angka profit akhir tidak menunjukkan seberapa besar tekanan yang harus dilewati trader selama prosesnya.

Drawdown membantu trader melihat sisi yang tidak terlihat dari angka profit. Bukan hanya bertanya “berapa banyak uang yang berhasil saya hasilkan?”, tetapi juga “seberapa besar akun saya sempat turun untuk mendapatkan hasil tersebut?”. Dengan memahami drawdown, maximum drawdown, dan durasi pemulihan, trader dapat mengevaluasi performa strategi secara lebih lengkap. Tujuannya bukan menghindari setiap penurunan, melainkan memahami dan mengendalikan risiko agar penurunan akun tetap berada dalam batas yang dapat dikelola.