Persediaan minyak mentah komersial Amerika Serikat kembali turun dalam laporan terbaru U.S. Energy Information Administration (EIA), tetapi penurunannya relatif terbatas. Stok crude berkurang 391 ribu barel menjadi sekitar 424,1 juta barel pada pekan yang berakhir 4 September, setelah pada pekan sebelumnya turun sekitar 4,45 juta barel. Hasil tersebut juga lebih kecil dibandingkan penurunan yang diperkirakan pasar sebelum laporan diterbitkan. Kondisi itu menunjukkan persediaan minyak AS belum mengalami pengetatan sebesar yang sebelumnya diharapkan pelaku pasar.

Apa Itu Crude Oil Inventories?

Crude Oil Inventories merupakan data mingguan mengenai jumlah minyak mentah komersial yang tersimpan di Amerika Serikat dan menjadi bagian dari Weekly Petroleum Status Report EIA. Data tersebut digunakan untuk membantu membaca keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak di pasar AS. Penurunan persediaan yang lebih besar dari perkiraan biasanya dapat mendukung harga karena menunjukkan minyak dalam penyimpanan berkurang lebih cepat. Sebaliknya, penurunan yang lebih kecil atau kenaikan persediaan dapat menunjukkan kondisi pasokan yang relatif lebih longgar.

Karena itu, data inventory tidak cukup dibaca hanya dari apakah stok naik atau turun. Pelaku pasar juga membandingkan angka aktual dengan ekspektasi, data pekan sebelumnya, serta komponen lain dalam laporan EIA. Pada laporan terbaru, stok memang berkurang, tetapi penurunannya hanya 391 ribu barel sehingga belum menunjukkan pengetatan pasokan yang kuat. Dari sisi fundamental domestik, kondisi tersebut cenderung kurang mendukung kenaikan harga minyak.

Laporan EIA Tunjukkan Pasokan AS Masih Kuat

Angka crude inventory bukan satu-satunya data yang menjadi perhatian. Estimasi mingguan produksi minyak mentah AS berada sekitar 13,9 juta barel per hari, sementara persediaan bensin bertambah sekitar 1,3 juta barel menjadi 206,9 juta barel. Stok distillate yang mencakup diesel dan heating oil juga meningkat sekitar 2,1 juta barel menjadi 106,3 juta barel. Kombinasi tersebut menunjukkan pasokan energi domestik AS masih berada pada tingkat yang relatif kuat.

Dari sisi permintaan, EIA mencatat gasoline product supplied, yang sering digunakan sebagai pendekatan terhadap konsumsi bensin, turun menjadi sekitar 8,6 juta barel per hari. Pada saat yang sama, persediaan bensin justru meningkat sehingga penyerapan bahan bakar belum menunjukkan kondisi yang sangat kuat. Situasi tersebut memperkuat tekanan dari sisi laporan EIA terhadap harga minyak. Dengan demikian, laporan terbaru belum memberikan katalis yang cukup kuat untuk mendorong kenaikan harga dari sisi fundamental AS.

Mengapa Harga Minyak Tidak Langsung Turun?

Tekanan dari data inventory muncul ketika pasar minyak global sedang menghadapi risiko pasokan yang jauh lebih besar dari Timur Tengah. Pada perdagangan Kamis, Brent melonjak sekitar 6,3 persen menjadi US$107,63 per barel, sedangkan WTI naik sekitar 6,7 persen menjadi US$102,48 per barel. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan kapal tanker, fasilitas energi, dan distribusi minyak di kawasan. Akibatnya, risiko pasokan global menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan perubahan stok minyak AS dalam satu minggu.

Salah satu perhatian utama pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dari kawasan Teluk. Berdasarkan data EIA, sekitar 20,9 juta barel petroleum liquids per hari melewati jalur tersebut pada paruh pertama 2025, setara dengan sekitar 20 persen konsumsi petroleum liquids dunia. Selat Hormuz juga menjadi jalur bagi lebih dari 20 persen perdagangan LNG global dalam kondisi normal. Besarnya peran jalur tersebut membuat gangguan distribusi berpotensi memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap pasar dibandingkan perubahan inventory mingguan AS.

Bagaimana Kondisi Harga Minyak Saat Ini?

Setelah reli tajam pada Kamis, harga minyak mengalami koreksi pada perdagangan Jumat (11/9). Reuters mencatat Brent turun sekitar 1,5 persen menjadi US$105,99 per barel, sementara WTI melemah sekitar 1,3 persen menjadi US$101,20 per barel. Meski terkoreksi, kedua benchmark tersebut masih mencatat kenaikan lebih dari 10 persen sepanjang pekan. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual mulai muncul setelah kenaikan besar, tetapi risiko pasokan global masih menopang harga pada level tinggi.

Koreksi tersebut belum menunjukkan bahwa sentimen pasar telah sepenuhnya berubah menjadi negatif. Harga masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik, arus pengiriman minyak, serta perubahan kondisi pasokan dari kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, laporan EIA memberikan alasan bagi pasar untuk lebih berhati-hati terhadap kenaikan harga yang terlalu cepat. Tarik-menarik antara pasokan domestik AS yang relatif kuat dan risiko pasokan global membuat pergerakan minyak tetap volatil.

Apa Dampaknya terhadap Arah Harga Berikutnya?

Dari sisi Amerika Serikat, laporan terbaru meningkatkan risiko koreksi karena penurunan crude inventory relatif kecil, produksi tetap tinggi, sementara stok bensin dan distillate meningkat. Pengaruh tersebut berpotensi semakin terlihat apabila ketegangan geopolitik mereda dan distribusi minyak dari Timur Tengah kembali lebih normal. Dalam kondisi tersebut, perhatian pasar dapat beralih kembali ke pasokan AS, konsumsi bahan bakar, produksi domestik, dan prospek permintaan global. WTI dan Brent kemudian berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar.

Sebaliknya, jika gangguan produksi atau distribusi di Timur Tengah memburuk, pengaruh data inventory kemungkinan kembali menjadi faktor sekunder. Ancaman terhadap Selat Hormuz, kapal tanker, maupun fasilitas energi dapat meningkatkan risiko berkurangnya pasokan global dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada perubahan stok mingguan AS. Kondisi tersebut dapat kembali memberikan dukungan kuat terhadap harga minyak. Karena itu, arah harga berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan risiko pasokan global dibandingkan perubahan inventory semata.

Untuk saat ini, Crude Oil Inventories memberikan tekanan dari sisi pasokan domestik AS, sementara risiko geopolitik masih menjadi penopang utama harga minyak. Jika ketegangan Timur Tengah mereda, pengaruh laporan EIA yang kurang mendukung harga berpotensi semakin terlihat. Sebaliknya, eskalasi baru dapat kembali membuat faktor pasokan global mendominasi pergerakan WTI dan Brent. Dengan kondisi tersebut, data inventory tetap penting, tetapi arah minyak dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada perkembangan pasokan global.